Rabu, 18 April 2012

Keajaiban Planet dan Bukti-bukti Penciptaan di Bumi


KEAJAIBAN PLANET DAN BUKTI-BUKTI PENCIPTAAN DI BUMI
Galaksi “ Bimasakti” merupakan sebuah galaksi yang terdiri dari berbagai palnet, satelit, bintang, komet, dan asteroid yang bergerak secara sempurna. Beberapa planet yang termasuk ke dalam gugusan tata surya aantara lain :
1.      Pluto
Pluto tercatat sebagai planet terkecil di alam semesta. Planet tersebut tersusun oleh bebatuan keras. Suhunya mencapai -238’C sehingga daerahnya menyerupai es.
2.      Neptunus
Planet ini tersusun dari gas Helium dan Metana yang beracun. Gas inilah yang menyebabkan warna planet menjadi kebiru-biruan. Suhunya mencapai -218’C dengan badai besar berkecepatan 2000km/jam.
3.      Uranus
Planet ini tersusun dari bebatuan, es, dan zat uranium mematikan. Uranus membutuhkan waktu kurang lebih 24 tahun untuk mengelilingi bumi.
4.      Saturnus
Saturnus merupakan planet terbesar kedua setelah Jupiter. Planet ini terdiri dari bebatuan, es, 25% Helium, 75% gas sehingga memiliki kerapatan yang lebih kecila daripada air. Saturnus dikelilingioleh cincin yang tersusun dari gas dan es sehingga menimbulkan kesan indah dari jauh.
5.      Jupiter
Merupakan planet terbesar dalam tata surya. Tidak ada daratan di sana. Hanya ada badai dan medan magnet.  Suhunya sangat dingin. Masa Jupiter 800x lipat masa bumi. Jupiter membutuhkan tegangan 400.000 volt untuk berotasi.
6.      Mars
Terdiri dari kawah-kawah besar yang muncul akibat benturan meteor. Sebagian besar udaranya adalah CO2  dan O2.  Di sini terjadi badai pasir berbulan-bulan.
7.      Venus
Disebut sebagai pemanggang raksasa sebab bersuhu 450’C sehingga dapat melelehkan timbal. Udaranya tersusun atas CO2. Planet ini memiliki tekanan yang setara dengan 1 km bawah bumi. Venus sering diguyur hujan asam mematikan. Planet ini juga sering disebut bintang fajar atau bintang sore sebab sering terlihat menyerupai bntang di kala senja dan pagi hari.
8.      Merkurius
Merupakan planet yang terdekat dengan matahari. Plenet ini berotasi dengan sangat lambat sehingga ada bagian yang membeku dan ada bagian yang dapat membakar. Makhluk hidup tidak akan mampu bertahan hidup di sana.
9.      Bumi
Planet ini berbeda dari 8 planet beserta 53 bulan lainnya. Bumi merupakan satu-satunya planet yang memiliki kehidupan sebab bumi memiliki keseimbangan udara terbaik dibandingkan dengan 8 planet lainnya.manusia, binatang, tumbuhan, serangga, dan makhluk hidup lainnya dapat melangsungkan hidunya di sana. Hal ini merupakan salah satu bukti kekuasaa Allah SWT. Seperti dalam Q.S Luqman 31: 10-11. Bahwa semua yang ada di dunia ini dirancang sesuai jalur kehidupannya masing-masing. Bumi memiliki keistimewaan antara lain :
-          Suhu bumi terdiri dari O2 CO2, Hidrogen, Nitrogen, dsb yang tersusun secara seimbang.
-          Bumi memiliki atmosphere yang berguna bagi kehidupan makhluk hidup.
-          Jarak bumi tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat dengan matahari sehingga bumi mencapat pancaran cahaya dan panas yang cukup sebesar 273C. Frans. FR menulis bahwa kehidupan di bumi 1-2%  dari rentang mutlak alam. Hal itu sama dengan besarnya matahari dan jarak matahari ke bumi. Jika suhu  berkurang 10% dapat menyebabkan permukaan bumi menjadi es. Namun jika suhu ditambah 10% maka bumi akan menjadi panas mematikan. Kepiringan kutub menjadi pelindung atmosphere. Kecepatan rotasi bumi adalah 24 jam sehingga terjadi perbedaan waktu siang dan malam sementara kecepatan revolusi bumi terhadap matahari adalah 365,.. hari sehingga menyebabkan pergantian bulan dan tahun.
-          Bumi dipenuhi penghalang yang menyebabkan perbedaan suhu. Penghalang tersebut adalah deretan pegunungan yang membentang di berbagai daerah di bumi.
-          Keseimbangan atmosphere dilindungi oleh awan. Awan tersebut merupakan kumpulan gas yang nantinya akan turun menjadi hujan setelah mengalami pemanasan.
-          Massa bumi  dibanding planet lain : merkurius 8% < dari bumi, sementara Jupiter 318x > bumi.
-          Lapisan-lapisan yang mengelilingi inti bumi membentuk medan magnet. Hal tersebut digunakan oleh burung untuk menentukan arah terbang.
-          Awan plasma matahari dibelokkan oleh medan magnet ke bumi sehingga menghasilkan cahaya-cahaya indah di langit. Partkel-partikel medan magnet menjadi perisai pelindung bumi. (Q.S Al Anbiya’ : 21-23.
-          Bumi memiliki susunan atmosfer yang sempurna yang terdiri dari: 77% Nitrogen, 21% Oksigen, dan 1% Karbondioksida.
Keseimbangan udara dan kondisi akan menyebabkan kelestarian ekosistem di muka bumi. Akan tetapi ketidakseimbangan di muka bumiakan menimbulkan bencana, kematian, kepunahan dan kerusakan.
ADAPTED BY : KULIAH "IAD"
 

Jumat, 06 April 2012

coretan awal



Memory kecil sahabatku
Kutatap langit yang bertaburkan keindahan malam. Sang rembulan dengan wajah sebagian seakan menyapa bintang-bintang yang mengitarinya. Sungguh dzat yang Maha Segalanya, pencipta panorama yang menggugah hati insan pengagumnya. Rrrrrt......rtt..rrrrrt.rrrrttt...., terdengar getar handphone dari sakuku. Nampaknya ada seseorang mengirim pesan kepadaku. “ Pit (begitulah mereka memanggilku), bsok siang sls kul IAD ikut besuk Fandi  ya.” Secara spontan ku balas “sorry, aku g’ bsa, lg bnyak tgs.”  Itulah jawaban yang sudah akrab di kalangan mereka jikalau mengajakku. Pikirku, kegiatan seperti itu hanya membuang-buang waktu saja. Masih banyak hal yang harus kuselesaikan saat ini. Yang paling penting bagiku hanyalah belajar, belajar, dan belajar.
Sembari menikmati sandiwara bulan dan bintang-bintang, kubuka sebuah benda kecil berwarna merah. Netbook mini yang selalu membantuku mengerjakan tugas-tugas kampus. Setelah loading berhasil, kubuka 3 lembar MS Word sekaligus. 2 untuk tugas kuliah dan 1 lagi khusus kusediakan untuk menuangkan isi hatiku. Ku berharap  kumpulan curahan hati ini akan berguna suatu saat. Yang jelas semuanya berkisar terntang alur hidupku yang rumit danpenuh dengan hal-hal baru bagiku. Terobsesi dari almarhum ayahanda yang berhasil menelurkan sekumpulan karya tulis baik fiksi maupun non fiksi dari seluruh pengalaman yang dilaluinya.
Setumpuk buku kuliah tertata rapi di meja kayu nangka yang berada di tengah-tengah susunan kursi. Tak lupa pula kuambil kacamata dan senjata utamaku untuk melawan Dewa Malam, secangkir nescaffe classic. Realita seperti ini acapkali mengundang komentar dari tetangga kamar,” Ya ampun, Pipit-Pipit. Kopi maning kopi maning. Nggak bosen kamu minum  pahit seperti itu? Jangan keseringan pit, nggak bagus buat kesehatan.” Ujar  Alin dengan logat khas Tegal nya. “ Hehe kamu pengen ya Lin, gimana ya,,,, udah terlanjur jadi solmet je,” sahutku. “ ya sudahlah, terserah dirimu bae’ pit, yang penting aku sudah mengingatkanmu.” Tukas Alin dengan raut muka agak cemberut. Beginilah aku, tak pernah menghiraukan kata-kata orang lain. Yang tahu diriku hanya aku, kenapa sih orang-orang hobinya ikut campur urusanku. Apa mereka tahu perasaanku? Kopi ini mungkin bahaya bagi sebagian orang. Akan tetapi bagiku, secangkir minuman kontroversial ini adalah nutrisi yang mampu meningkatkan kekuatanku dalam beraktivitas.
Sepasang mata dengan kaca tebal minus 2 mulai membuka tumpukan buku satu demi satu hingga susunannya tak berbentuk lagi. Kukutip sebagian halaman buku, dan sesekali kumemandang sang rembulan untuk berdiskusi dengannya.  Waktu sudah larut malam. Sekumulan properti belajra masih setia menemaniku. Begitu pula langit seisinya seakan me Nina Bobo kan aku di teras kost yang berselimutkan hawa dingin. Sesaat kemudian, dari dalam kost, keluar seorang perempuan berkaos hijau pendek dan celana tiga perempat  dengan rambut acak-acakan menuju ke arahku. “ Pit, udah malam, jam 1 pit. Masuk cepetan ke dalam. Jangan tidur di sini, angin malam ora apik kanggo kesehatan. “ Temanku yang satu ini pasti mengingatkanku soal kesehatan. Ya maklum saja dia sempat berkeinginan menjadi dokter, namun sayang takdir malah membawanya ke jurusan yang sama denganku, Tarbiyah.
“iya iya bu dokter. Huahhhh, ngantuk banget aku. Tolong bawain barang-barangku ke dalam ya. Ku udah g kuat melek.” Sahutku dengan nada terkantuk-kantuk. Dengan kondisi badan yang sempoyongan kutinggalkan begitu saja properti belajar di teras. Sementara Alin memberesi teras, dengan tanpa sedikitpun rasa bersalah aku langsung menuju ke kamarku. Kurebahkan badanku di kasr yang telah disediakan. Seketika itu rasa lelah, letih, gundah dan bimbang menghilang bersama lelapnya tidurku di malam itu. Pikiran terasa segar, dan syaraf-syaraf pun melemas.dengan semi mengigau ku berteriak, “Lin, don’t forget pasang alarm!”
“Nggih jeng,” ini buku dan lappy mu tak taruh di meja. “sebelum meninggalkan kamarku tak lupa ia menggelar selimut tebal di tubuhku yang sudah terlelap. Pikirku, ia sudah seperti ibuku sendiri yang selalu memperhatikanku di perantauan.
Di antara teman-teman yang lain, hanyalah cewek Tegal itu yang selalu memahami perasaanku. Namun, selama 2 tahun berteman dengannya, belum pernah sekalipun aku membalas perhatiannya. Aku hany sibuk dengan duniaku sendiri. Belajar, belajar, dan belajar. Mungkin ini pengaruh dari motto hidupku juga. “Kuliah untuk menuntut ilmu, bukan untuk mencari teman. Suksesmu ada di tanganmu, bukan di tangan temanmu”. Kalimat itulah yang selalu mengokohkan semangat hidupku. Namun kalimat itu pula yang membekukan hatiku menjadi sekeras batu, hingga tak peduli akan lingkungan sosial di sekitarku. Semboyan ini seakan memposisikanku sebagai 2 peran sekaligus. Ketika aku memfokuskan diri pada tujuan hidup, aku menduduki peran protagonis di mana semua tindakan yang kulakukan kutujukan pada pencapaian cita-cita ynag mulia. Di sisi lain aku berperan antagonis terhadap orang-orang sekitar. Aku yan dingin, kaku dan tak peduli sekitar.
Fajar pun menjelang. Alarm yang khusus disetel Alin bergeming di telingaku. Tepat jam 03.00 WIB aku mulai membuka mata. Kutatap cermin yang tertempel di dinding lemari. Ku lihat kantung hitam terlukis di bawah mataku. Kugeleng-gelengkan kepala, kuliuk-liukkan badan ke kanan dan ke kiri. Gletk, gletuk.... tulang-tulangku seakan berceletuk. Dengan langkah tertatih-tatih ku berjalan ke kamar mandi. Kuambil air wudhu, lalu sejenak ku bersujud pada ilahi. Selesai ritual itu, kubuka sebuah mushaf suci di persujudanku. Kulantunkan ayat demi ayat dengan irama karyaku sendiri. Nyaman, tentram, dan hening rasanya, ketika ku membaca untaian kalam-kalam nan indah itu.
Singkat cerita, sang mentari mulai  menampakkan senyumnya. Waktu menunjukkan pukul 06.30 WIB. Ku berkemas-kemas untuk berangkat ke kampus. Seperti biasa, Alin duduk di teras sembari menyisiri rambut yang semakin menipis. Dengan nada ngapaknya Alin menyapaku, “gimana, tugasmu uwis rampung?” kujawab pula, “alhamdulillah udah kukebut tadi malam.” Pipit, aku bisa minta tolong nggak? “ ucap Alin dengan wajah yang agak berbeda dari biasanya.”tolong apa Lin? Jangan sekarang ya, aku lagi buru-buru. Aku berangkat dulu  ya, dagggh...” ujarku sambil berlari menuju motor yang sudah terparkir di samping kost. “ hati-hati pit,....” pesan Alin kepadaku.Tanpa mempedulikan ucapan Alin, ku bergegas menyetater motor. Kususuri sepanjang jalan di pagi itu. Rona mendung di langit laksana atap yang mengayomi sepanjang jalan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Jalan yang cukup ramai dengan bangunan di kanan kiri. Jalan yang sudah dimonopoli oleh polusi dan kemacetan. Gelisah sudah aku terjebak di tengah keramaian, pikirku, aku harus cepat-cepat sampai di kampus. Jangan sampai aku melewatkan satu presentasi. Suasana bimbang semakin meliputi diriku. Di tengah-tengah kebimbangan, handphoneku bergetar. Ku ambil handphone dari sakuku, ternyata Alin memanggil. Kukira tak usah diangkat sajalah. Paling-paling Cuma mau nanyain hanger, sapu, ah tidak penting. Secara spontan ku reject segera panggilan masuk dari Alin.
Lalu lintas kembali normal. Aku melaju dengan kencangnya. Yang ada di pikiranku hanya satu. Presentasi dan presentasi. Setiba di tikungan aku tak kuasa menjaga keseimbangan, naasnya motor yang kunaiki menabrak seekor anak kucing hingga mati. Hatiku bertambah gelisah. Ku terus saja melaju, hingga sesampai di kampus aku langsung menuju ke kelas 203.
Ku mulai mempresentasikan makalah yang ku buat tadi malam. Entah kenapa, hari itu pikiranku tak bisa fokus. Hanya rasa gelisah yang bergumul dalam hati. Tak seperti biasa, aku lalui presentasi dengan pikiran kacau. Pertanyaan, tanggapan, dan sanggahan terus menghujamiku. Aku tak bisa menjawab sesuai keinginan audience. Benar-benar presentasi yang gatot, alias gagal total.
Hari itu aku pulang dengan suasana yang carut marut. Sesampai di muka gerbang kost, tercengang aku seketika, melihat bendera putih dikibarkan di samping gerbang. Kulangkahkan kaki dengan perlahan, degup jantung kian bertambah kencang. Kulihat banyak orang berkerumun di depan kamar Alin. “Assalamualaikum, ....” aku mengucap salam. Seketika itu berpuluh-puluh mata menatapku dengan tatapan penuh makna. Membukakan jalan bagiku untuk menuju ke sesosok tubuh berbalut kain putih di ujung kamar sana.
Perlahan ku menghampirinya, dengan kondisi badan yang gemetar, kubuka kain sehelai kain yang menyelimuti muka sesosok manusia yang terbaring. Hilang seketika semua pikiran di benakku. Melayang serasa diriku, hingga jatuh tak tersadarkan lagi. Seseorang yang selama ini selalu berada di sampingku, membantuku, dan memperhatikanku kini tlah pergi. Nada dialek yang ganjal itu telah pergi. Cahaya ketulusan itu tak kan pernah bersinar lagi.
Di sudut nurani sang ego selalu berkata, “ Kejam sekali dirimu. Kau tak pernah menghiraukan orang-orang di sekelilingmu. Kau hanya memikirkan dirimu sendiri, tak pernahkah kau sadari kau hidup untuk siapa, hidup bersama siapa.” Kumpulan kata bernada ironi itu tak henti-hentinya merasuk ke celah-celah otakku. Aku bimbang, mungkinkah ini adalah dramatisasi hatiku? Ataukah mungkin ini semua kritik dari Tuhan untuk seorang hamba yang lupa dzalim ? aku tak tahu apa yang sedang menimpa diriku. Hati ini selalu dirundung sesal tak menentu. Mengapa aku begitu egois? Di saat aku masih bisa berbicara padanya, kehendak hati seolah biasa-biasa saja. Namun ketika ia hampir meninggalkanku, aku tak sempat menemaninya. Kanker otak yang ganas telah membawa pergi senyum riang dara manis itu.
Baru kusadari, ragaku sangatlah ampuh, namun jiwaku begitu rapuh. Jiwa yang tak mampu mendefinisikan arti sahabat, jiwa yang selalu sendiri dan jiwa yang penuh keangkuhan. Kini aku baru mengerti arti sahabat. Sahabat adalah bukanlah orang yang selalu membuat kita bahagia, namun sahabat adalah orang yang dengan tulus mendampingi kita untuk mencapai kebahagiaan yang kita inginkan
Terngiang di benakku sebuah Hadits riwayat Abu Daud “apabila seseorang itu dikehendaki oleh Allah menjadi baik, maka Allah memberikan rizki padanya berupa seorang kekasih (sahabat) yang sholih. Jikalau ia lupa, kekasih itulah yang mengingatkannya. Dan jikalau ia ingat maka kekasih itu suka pula menolongnya.”
 Ia pergi tanpa pamit. Hanya meninggalkan sebuah diary kecil berwarna pink, di atas kasurku. Lembar muka, yang terpampang fotoku bersamanya, dan 50 lembar isi yang bercerita tentang pengalamanku dengannya. Sungguh pedih serasa tersayat teriris-iris hati ini. Kubuka selalu saksi bisu itu, kupenuhi lembar-lembar terakhir catatan kalbu, kutorehkan semua beban yang mengendap di hatiku. Selamat jalan , wahai kawan,,,, kau akan senantiasa mengisi relung sanubariku.
Ini adalah seuntai kata yang sempat ia tuliskan untuk yang terakhir kali,
Kau adalah lentera hidupku
Kau adalah oase dalam kekeringan jiwaku
Mekar kuntum yang tak pernah layu
Kobarkan api smangat dalam diriku
Hati ini tak pernah letih menatapmu
Berjuang demi masa depanmu
Aku tak bisa berbagi duka Denganmu
Sebab itu hanya menambah beban bagimu
Luka di kepala yang telah membatu
Menyiksaku perlahan-lahan
Tapi semua itu tak terasa berat bagiku
Sebab kau selalu menjadi pelita bagi hidupku
Hanya satu pesan dariku
Lanjutkan hidupmu dan gapailah cita-citamu